Menaruh Harap pada Penyuluh Pertanian

Menaruh Harap pada Penyuluh Pertanian

GARUT – Adim (50) mematikan starter motornya di Kampung Nambo, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, akhir Mei 2018.

Ia lalu memarkirkan motornya di warung berukuran 4×4 meter yang terbuat dari kayu. Adim turun dari motornya dan menghampiri sang pemilik warung.

“Ceu, nitipnya. Rek ka sawah heula. (Kak, titip motor ya, mau ke sawah,” ujar suami dari Aat ini.

Adim kemudian berjalan di jalan setapak menjauhi jalan desa. Sekitar 30 menit berjalan kaki ia sampai di sawah yang padinya masih hijau.

Hampir tiap hari Adim pergi ke sawahnya. Jarak sawah dengan rumahnya sekitar 3 km. Namun, karena jalannya berbatu besar layaknya jalan offroad, waktu yang harus ditempuh Adim lebih lama.

Ia terpaksa membeli sawah jauh dari rumahnya di Kampung Cilampayan, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Pakenjeng, Garut. Karena tanah di kampungnya tidak bagus ditanami padi.

“ Sawah nu digarap sakedik nyi, mung 80 are (tanah yang digarap sedikit, hanya 80 are/8.000 meter persegi,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Sawahnya, sambung Adim, terbilang subur. Dalam satu tahun ia bisa panen dua kali. Sekali panen, menghasilkan 2 ton gabah kering giling (GKG). Itu artinya, setahun ia mendapat 4 ton GKG.

Gabah itu ia giling. 1 kuintal gabah menjadi 58-60 kg beras. Beras ini kemudian dijual ke Garut seharga Rp 9.000 per kg.

Namun biaya produksi yang ia keluarkan juga cukup besar. Sekali musim tanam hingga panen ia bisa mengeluarkan dana Rp 3 juta-4 juta, di luar biaya giling dan transportasi.

Jika dihitung dalam gabah kering giling, dari hasil panen 2 ton (2.000 kg) GKG, biaya produksinya 8 kuintal (800 kg). Sekali musim tanam sekitar 3-4 bulan.

“(Biaya produksi) untuk pekerja, bibit, sampai pupuk. Untung harga pupuk 4-5 tahun ini tidak naik dan pasokannya lancar. Saya belinya langsung dari Garut biar murah,” ucapnya.

Pupuk yang ia gunakan adalah urea dan TSP. Sesekali ia menggunakan matador untuk membasmi hama wereng dan kungkang.

“Kangge tanah 80 are, pupuk nu diangge 4 kuintal (untuk tanah 80 are, pupuk yang digunakan 4 kuintal). Kalau mau bagus lagi, ditambah pupuknya,” imbuhnya.

Ilmu menanam padi termasuk pemberian pupuk, ia dapatkan berdasarkan pengalaman, orangtua, serta insting. Ia juga pernah mendapat penyuluhan dari pemerintah tapi sudah lama.

“Kapungkur aya penyuluh pertanian, tapi tos lami teu aya. (Dulu ada penyuluh pertanian, tapi sudah lama tidak ada,” katanya.

Padahal ia berharap ada penyuluh pertanian, sehingga ia bisa bertanya banyak tentang hama, pupuk, bibit, dan lainnya. Termasuk bagaimana meningkatkan produksi sawahnya.

“Nyawah teh ayeunamah abot, sok aya weh persoalan jiga hama. Sugan aya penyuluh meh tiasa ngabantosan. (Bertani sekarang berat, suka masalah seperti hama. Siapa tahu ada penyuluh bisa membantu),” ungkapnya.

“Penyuluh pertanian mah nyakola, pasti apal kedah dikumahakeun meh hasilnya seueur (penyuluh pertanian kan sekolah, jadi tahu solusi agar produksinya banyak),” katanya.

Penyuluh Pertanian Kurang

Data Kementerian Pertanian menyebutkan, hingga akhir 2017, Indonesia memiliki 44.000 penyuluh pertanian dari 72.000 desa yang berpotensi di bidang pertanian. Itu artinya, Indonesia kekurangan 28.000 penyuluh.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Momon Rusmono mengatakan, dari 44.000 penyuluh, sekitar 25.000 penyuluh berstatus pegawai negeri sipil (PNS), sisanya tenaga harian lepas (THL).

Ada beberapa penyebab jumlah penyuluh kurang. Yakni pertama, transisi lembaga penyuluhan yang tadinya berdiri sendiri, namun kini diintegrasikan dengan dinas.

Kedua, penyuluh berkurang karena pensiun. Ketiga, tugas penyuluh semakin meningkat yan orientasinya target provinsi. Keempah, wilayah binaan penyuluh semakin luas.

Bahkan saat ini, seorang penyuluh harus menangani petani di tiga desa sehingga membuat pendampingan tidak berlangsung efektif dan optimal.

Jika pendampingan tidak efektif dan optimal, produksi pertanian tidak masimal dan kesejahteraan petani tidak tercapai.

Baca Juga : KPU: 69 TPS di 10 Provinsi Harus Pemungutan Suara Ulang

Untuk mengatasi kekurangan tenaga penyuluh, Kementerian Pertanian tengah menumbukembangkan penyuluh swadaya.

Pihaknya juga meminta pemerintah kabupaten/kota berperan aktif merekrut tenaga penyuluh.

Kelompok tani di Desa Rengas merupakan salah satu contoh keberhasilan peningkatan hasil panen dengan teknologi ramah lingkungan.