Performa Jeblok Bikin MU Terancam Kehilangan Rp 346,2 Miliar

Manchester – Perform jelek membuat Manchester United terancam tidak berhasil ke Liga Champions . Setan Merah juga terancam kehilangan Rp 346,2 miliar dari sponsor.

MU sekarang jadi bulan-bulanan sebab perform buruknnya. Pasukan Ole Gunnar Solskjaer baru mengepak 4 kemenangan dari 11 pertandingan pertama di semua persaingan pada musim 2019/2020.

Spesial di Liga Inggris, Paul Pogba dkk baru mendapatkan 2 kemenangan, dengan bekasnya menerima kekalahan serta hasil seimbang semasing 3x. Sesaat MU ketahan di rangking ke-12 klassemen Liga Inggris dengan baru kumpulkan 9 point, terpaut 15 angka dari Liverpool di tempat pertama.

Kondisi itu, lepas musim masih panjang, tersisa kecemasan pada kelolosan MU ke persaingan Eropa musim depan. Ya, The Red Devils di kuatirkan tidak maju ke Liga Champions .

Baca Juga : Masinton: Perbaikan UU KPK yang Typo Diserahkan Sebelum 17 Oktober

Musim kemarin, MU cuma finish di rangking 6 Liga Inggris hingga cuma tampil di Liga Europa pada musim 2019/2020. Sekarang, perform jelek membuat MU terancam tidak berhasil maju ke Liga Champions untuk dua musim berturut-turut.

Seandainya demikian, MU akan kehilangan dana sponsor sebesar 20 juta paun atau seputar Rp 346,2 miliar. Nominal itu diambil dari kesepakatannya dengan Adidas.

Didapati, Adidas jadi sponsor penting MU dengan nilai kontrak sampai 750 juta paun atau hampir Rp 13 triliun untuk periode waktu 10 tahun semenjak musim 2015/2016.

Adidas per tahunnya akan membayar sebesar 75 juta paun pada MU. Tetapi, produsen apparel terkenal itu akan memotong dana tahunannya sebesar 30% seandainya MU tidak berhasil maju ke Liga Champions dua musim berturut-turut. Persetujuan itu jadi klausul dari kedua pihak.

Liga Champions memang penting buat pundi-pundi uang MU. Pada musim 2016/2017, saat tidak berhasil tampil di persaingan itu, penghasilan mereka turun mencolok.

“Hasil keuangan kami untuk kuartal ini menggambarkan efek dari tidak berperan serta kami di Liga Champions,” katanya Direktur Eksekutif Ed Woodward.